web counter

Mimpi – Wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas

Mimpi merupakan pengalaman bawah sadar yg melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya pada tidur,[1] terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).

Kejadian pada mimpi umumnya tidak mungkin terjadi dalam global nyata, dan di luar kuasa pemimpi. Pengecualiannya adalah dalam mimpi yang diklaim lucid dreaming. Dalam mimpi demikian, pemimpi menyadari bahwa beliau sedang bermimpi saat mimpi tadi masih berlangsung, dan kadang-kadang sanggup mengubah lingkungan pada mimpinya serta mengendalikan beberapa aspek pada mimpi tersebut.

Pemimpi jua dapat merasakan emosi waktu bermimpi, misalnya emosi takut pada mimpi tidak baik. Ilmu yang menilik mimpi dianggap oneirologi.[dua]

Mimpi terjadi dalam tahap kecepatan konvoi mata ketika tidur, pada mana aktivitas otak tinggi & seolah-olah pada keadaan terbangun. Panjangnya mimpi bervariasi, minimal beberapa dtk, atau sekitar 20-30 mnt. Pendapat tentang makna mimpi bervariasi berdasarkan saat & budaya. Kebanyakan penggemar Teori Freud putusan bulat menggunakan makna penglihatan dalam mimpi merupakan penampakan dari hasrat & emosi yang tersembunyi. Beberapa teori lain memberitahuakn bahwa mimpi merupakan termin pembentukan memori, penyelesaian perkara, atau sekadar produk dari sunting sumber]

Sejak dahulu kala, mimpi diyakini menjadi petunjuk spiritual yg membawa seorang memasuki dimensi yang tidak sinkron. Pengalaman mimpi yang dialami diyakini adalah pesan-pesan berdasarkan masa depan tentang apa yg akan terjadi pada kehidupan seorang. Para ilmuwan berusaha memecahkan misteri mimpi insan. Tetapi setidaknya terdapat 4 teori yg paling terkenal menyebutkan mengenai penyebab mimpi.1. Teori Psikoanalisis Freud[sunting sumber]

Menurut Sigmund Freud, mimpi merupakan motivasi manusia yg tidak disadari. Ia adalah motivasi terselubung dan terendap pada alam bawah sadar. Ia menyebutkan bahwa insting insan dapat dirasakan oleh kesadaran. Namun nir sanggup dipahami secara sadar. Ini misalnya kita menyukai sesuatu, tetapi kita nir tahu mengapa menyukai hal itu

Freud menyarankan supaya kita menganalisis pertanyaan tersebut melalui mimpi. Saat bermimpi, area tidak sadar akan membocorkan informasi-kabar krusial. Membuat kita tahu syarat & motivasi diri kita sebenarnya.

Ia membagi dua jenis komponen pada mimpi. Yang pertama adalah bersifat manifes dan kedua adalah laten. Manifes bisa kita lihat dari gambar, pikiran, dan permasalahan di dalam mimpi tadi. Sedangkan laten merupakan makna psikologis yang tersembunyi di dalamnya.[3]dua. Teori Sintesis-Aktivasi[sunting asal]

Hipotesis buatan-aktivasi pada mimpi pertama kali diusulkan sang J. Allan Hobson & Robert McClarley pada tahun 1977. Teori ini menyebutkan bahwa kegiatan otak dalam REM (tidur nyenyak) mempunyai kesamaan dengan aktivitas otak ketika kita sedang dalam keadaan tersadar. Sirkuit otak permanen mempunyai kegiatan yang normal misalnya saat kita terbangun. Oleh karena itu, kita akan permanen memiliki respons emosi yg nyata waktu bermimpi.

Dalam fase tersebut, otak juga akan mengakses LTM (Long Term Memory [4]) buat mengambil struktur pengetahuan pada potong-potongan minimenciptakan narasi dan cerita. Beberapa latar belakang loka di dalam mimpi mungkin pernah engkaulihat sebelumnya.

Walaupun mimpi terbentuk dari data-data internal pada otak manusia, namun Hubson tidak percaya bahwasanya mimpi tidak memiliki makna & manfaat. Menurutnya, mimpi dapat menaruh kita pengalaman & wangsit-ide baru.[3]tiga sunting sumber]

Para pakar menjelaskan bahwa mimpi hanyalah sisa-sisa berdasarkan pemrosesan keterangan yg kita terima sebelum tidur atau beberapa hari sebelumnya. Beberapa bagian otak masih aktif mengumpulkan rabat liputan dan membentuk percikan mimpi berdasarkan kegiatan tersebut. Tangkapan berita yg kita terima waktu sadar sangatlah kompleks. Seperti emosi, sentuhan, & suasana yg tidak kita sadari ketika mendapati kabar.

Beberapa psikolog meyakini mimpi hanyalah bentuk pemrosesan liputan yang dipercaya nir terlalu krusial. Semakin banyak kegiatan yang kita lakukan di luar tempat tinggal, hal ini akan membentuk semakin kompleks potongan gambar, kesan, & cerita pada mimpi.[3 sunting sumber]

Selama kita tertidur, kita akan mendengar beberapa bunyi misalnya jam, radio, televisi, atau bunyi fauna-fauna mini. Beberapa bunyi memiliki frekuensi yg bisa ditangkap sang indra insan. Saat memasuki fase REM, otak tetap merespons apa yg terjadi pada luar tubuh kita. Beberapa pada antara kita pasti akan pernah bermimpi sedang mandi, berada pada loka yang kering, dikarenakan beliau sedang pada syarat kehilangan cairan tubuh.

Sebagian orang mendapati mimpi dia sedang terlambat bekerja hanya lantaran dia mendengar bunyi ayam. Bunyi dan gangguan eksternal selama kita tertidur akan merangsang memori masa lalu yang berkaitan menggunakan gangguan tadi.[3]Referensi[sunting sumber]^ “Dream”. The American Heritage Dictionary of the English Language, Fourth Edition. 2000. Diakses tanggal 7 Mei 2009.^ Kavanau, J.L. (2000). “Sleep, memory maintenance, and mental disorders”. Journal of Neuropsychiatry and Clinical Neurosciences. 12 (2).^ a b c d Taufik, Muhammad (9 Desember 2019). “4 Penjelasan Kenapa Manusia Bisa Bermimpi Saat Tidur”. Golife.^ “Long-Term Memory”. SpringerReference. Berlin/Heidelberg: Springer-Verlag.Pranala luar[sunting sumber](Inggris) Dreams: The Purpose Of Dreams.(Inggris) Purpose of Dreams Text – Physics Forums Library.